Tafsîr Surah Al-Mulk Ayat 2
Tafsir Surah Al-Mulk Ayat 2: Pendapat Mufasir Klasik dan Kontemporer

Surah Al-Mulk ayat 2 berbunyi:
Ayat ini mengandung makna mendalam tentang hakikat kehidupan dan kematian sebagai ujian dari Allah bagi manusia. Para mufasir klasik dan kontemporer menafsirkan ayat ini dengan perspektif yang berbeda, sesuai dengan konteks keilmuan dan zamannya.
Tafsir Klasik
1. Tafsir Al-Tabari
Judul: Jāmiʿ al-Bayān fī Ta’wīl al-Qur’ān
Penulis: Abu Ja'far Muhammad bin Jarir Al-Tabari
Tahun Terbit: 883 M
Kota: Kairo
Penerbit: Dar al-Hadith
Halaman: Vol. 29, Halaman 73-75
Al-Tabari dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan bahwa Allah menciptakan kehidupan dan kematian sebagai ujian untuk membedakan antara hamba-hamba yang berbuat baik dan buruk. Menurutnya, ujian kehidupan termasuk dalam bentuk ketaatan dan maksiat, sedangkan ujian kematian adalah ketenangan yang datang setelah kematian.
2. Tafsir Al-Qurtubi
Judul: Al-Jāmiʿ li Aḥkām al-Qur’ān
Penulis: Abu 'Abdullah Al-Qurtubi
Tahun Terbit: 1272 M
Kota: Kairo
Penerbit: Dar al-Kutub al-Misriyya
Halaman: Vol. 18, Halaman 212
Al-Qurtubi dalam tafsirnya lebih menekankan bahwa hidup adalah ladang untuk beramal, sementara mati adalah kondisi akhir sebelum kembali kepada Allah. Menurutnya, 'ahsanu 'amala' (amal yang terbaik) bukan hanya soal kuantitas, tetapi kualitas keikhlasan dan ketepatan amal.
3. Tafsir Ibn Kathir
Judul: Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm
Penulis: Ismail Ibn Kathir
Tahun Terbit: 1373 M
Kota: Damaskus
Penerbit: Dar Ibn Kathir
Halaman: Vol. 4, Halaman 401
Ibn Kathir menjelaskan bahwa Allah menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji manusia dalam hal amal perbuatan. Ia mengutip beberapa hadits yang menegaskan bahwa sebaik-baik amal adalah yang dilakukan dengan ikhlas dan sesuai dengan sunnah Rasulullah.
Tafsir Kontemporer
1. Tafsir Sayyid Qutb
Judul: Fi Ẓilāl al-Qur’ān
Penulis: Sayyid Qutb
Tahun Terbit: 1964
Kota: Kairo
Penerbit: Dar al-Shuruq
Halaman: Vol. 6, Halaman 3715
Sayyid Qutb dalam Fi Ẓilāl al-Qur’ān menafsirkan ayat ini dalam konteks perjuangan hidup. Menurutnya, hidup adalah medan ujian yang penuh dengan tantangan, dan manusia diuji untuk melihat siapa yang tetap teguh di atas jalan kebenaran. Tafsir ini sangat dipengaruhi oleh konteks sosial-politik zamannya, di mana Qutb melihat perjuangan umat Islam melawan penindasan sebagai bagian dari ujian Allah.
2. Tafsir Wahbah Al-Zuhayli
Judul: Al-Tafsīr al-Munīr
Penulis: Wahbah Al-Zuhayli
Tahun Terbit: 2004
Kota: Damaskus
Penerbit: Dar al-Fikr
Halaman: Vol. 29, Halaman 152-153
Wahbah Al-Zuhayli menekankan bahwa ayat ini mengandung dua dimensi penting: hidup sebagai anugerah dan mati sebagai akhir yang pasti. Ia menafsirkan bahwa yang diuji bukan hanya amal dalam jumlah, tetapi juga kualitas amal dalam bingkai keikhlasan dan ketundukan kepada Allah.
3. Tafsir M. Quraish Shihab
Judul: Tafsir Al-Mishbah
Penulis: M. Quraish Shihab
Tahun Terbit: 2002
Kota: Jakarta
Penerbit: Lentera Hati
Halaman: Vol. 15, Halaman 292-294
Quraish Shihab menafsirkan bahwa ayat ini mengajarkan manusia tentang hakikat kehidupan dan kematian yang diciptakan Allah untuk menguji kualitas amal. Dia menjelaskan bahwa kata "ahsanu 'amala" merujuk pada amal yang dilakukan dengan niat yang benar, ikhlas, dan sesuai syariat.
Komentar
Posting Komentar